Kamis, 10 Januari 2013

cerpen : cita-cita meragukan


Hai semua… kali ini gue mau posting tentang sebuah cerpen. Ya sesuai judulnya.. ini cerpen untuk menyungkapkan apa yang gue pikirkan saat ini. Here we go..

Impian yang meragukan

Saat ini pukul 11:23 , waktu dimana bel istirahat tinggal 7 menit lagi.. gak sabar banget, soalnya udah laper. Bayangin, istirahat pertama jam 09:00 aku gak makan apapun, soalnya sibuk dengan tugas yang belom selesai. Yaa.. berakhirlah aku dengan miris seperti ini.

Jam istirahat pun berbunyi. Aku langsung pergi untuk membeli makanan kecil, lalu pergi untuk sholat terlebih dahulu. Setelah ituaku pun makan. Rasanya surga sekali bisa makan. Setelah makan aku pun kembali ke kelas.

Seperti biasa. Keseharianku dikelas hanya duduk sambil mendengarkan musik, atau ngobrol dengan teman. Kali ini topik pembicaraan kami tentang anak-anak di kelas kami yang malas belajar, ataupun yang mulai ‘tobat’

“mungkin kelas kita diremehin kayak gini karna berisik kali ya” tanyaku kepada teman-temanku
“kalo menurut aku sih, karna nilai anak-anak yang jelek.” Kata temanku nasha
“bisa jadi tuh, guru-guru kan selalu bandingin kita sama anak kelas lain, yang lebih bagus. ” kata temanku yang bernama iren
“tapi ada juga loh yang udah mulai tobat. Tuh nyatanya andi, yang tadinya kelas 8 paling brisik paling bandel, nilai bagus-bagus gitu” kataku
“iya, mungkin Cuma dia doang kali. ” kata nasha
“iya juga, tapi kenapa mereka begitu ya? Apalagi wawan. Malah katanya dia pernah narkoba loh.. mereka apa gak mikir gede mau jadi apa ya kalo kayak gitu terus?” tanya iren
“gak tau tuh, padahal mereka kan cowok. Kalo gak ada kerjaan, paling nganggur, trus gak laku deh. mana ada istri yang mau ama suami yang gak ada kerjaan. Masa iya istri disuruh kerja banting tulang sambil ngurus anak. Mending kalo gak lagi bunting. Nah kalo iya? itu anak apa mau dilepas trus pasang lagi sesudah kerja. Kan gak mungkin” ocehku
“kalo aku mah ya nanti kalo udah gede pengen jadi desainer baju muslim. Kan mayoritas muslim diindonesia lumayan banyak. Jadi desainer juga duitnya banyak. Biar gak minta suami mulu kalo mau shopping. Hehe..” kata iren.
“kalo aku jadi penulis novel aja. Selain bisa buat dunia sendiri tanpa batas, kan bisa untuk memotivasi orang juga. Lagi pula dapetnya banyak. Tinggal bikin imajinasi, ngetik, udah tinggal sebar.” Kataku.
“kok kamu sama sih kayak aku. Kamu kopas aja nih” kata nasha.
“emang kamu cita-cita jadi novelis dari kapan?” tanyaku
“dari kelas 7. Kamu?”tanya nasha
“hoho.. berarti kamu dong yang kopas. Aku malah dari kelas 6 ..” kataku.
Bel berbunyi. Padahal kami sedang asyik mengobrol. Kali ini pelajaran bu aini. Ia mengajar pelajaran BK. Aku benci dengan pelajaran BK kali ini disekolah. Kenapa? Gurunya sudah tua dan sepertinya dia bukan lulusan jurusan kejiwaan, karena dia sama sekali tidak memberikan motivasi. Aku mulai bosan saat ternyata guru pelajaran terakhir tidak ada, jadi aku harus mendengarkan ceramahannya selama 3 mata pelajaran (note: 1 pelajaran : 2 jam pelajaran=45menit/jampelajaran). Itu sungguh membuatku bosan.
“disini siapa yang juara 1?” suara itu membangunkanku dari dunia lamunanku. Kenapa? Karena aku merasa.. hehe sombongnya. Meskipun aku juara 1 aku tidak begitu senang karena juara 1 disini juga karena teman-temanku yang mengizinkanku untuk maju. Kenapa? Orang yang terbully biasanya dia tertekan dan susah untuk mendapat lowongan juara. Jadi yaa.. prestasi kita tergantung temen juga.
“vina bu..” orang disampingku berteriak dan menunjuk kepadaku. Ini membuat aku tidak enak. Seakan-akan aku hero di kelas ini, padahal belum tentu untuk peringkat seangkatan.
“kenapa kamu bisa juara 1? Apa motivasi yang bisa kamu ungkapkan untuk teman-temanmu?” tanya bu aini.
“em.. ” aku berfikir sejenak. “menetapkan cita-cita”
“bagus. Emang cita-cita kamu jadi apa?” tanya bu aini. Bagiku ini adalah privasi. Karena aku tak yakin bisa menjadi novelis. Karena setiap cerpen yang kutulis selalu tak selesai, setelah itu muncullah ide ide baru yang menurutku perlu ditulis. Jadi aku akan..
“penulis novel bu” kudengar banyak orang menertawakanku. Apa ini cita-cita yang aneh?
“bagus itu.. penulis novel itu biasanya bisa menghasilkan uang banyak.” Aduh si ibu. Duit lagi duit lagi. kudengar suara tertawa itu berhenti. Mungkin mereka sudah salah mengiraku.
Aku harap aku benar benar jadi penulis novel. Dengan impian cita-citaku yang lain, yang tak bisa kuraih, aku bisa membuat kisahku didalam sebuah novel. Aku yang lain dan kehidupan yang lain. yang tak pernah terjadi namun selalu dikenang bagai masa lalu. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar